headline photo

Critaku : Kok mau (maunya) jadi Fnancial Planner

Thursday, February 19, 2009

Sekarang aku mau cerita2 deh ya ... ya masih seputar tentang asuransi lah ya pokoknya ...

Aku mau cerita karena banyak yang heran kenapa sih kok punya cita2 jadi Financial Planner (FP) – btw orang masih suka nanya lagi kalo dibilang profesiku FP jadi kadang dipertegas lagi dengan ”yaaa agent asuransi gitu deeehhh’ baru deh mereka yang ”oooooo” gitu – iya kan gak banyak ya yang punya cita2 jadi FP, terutama FP dibawah bendera perusahaan asuransi. Secara profesi ini masih banyak klien/calon klien yang mikir dua kali deh buat nerima telpon atau ketemu agent asuransi, hehehe, maaf bahasanya apa yah yang tepat, pokoknya ”dideketin ama agent asuransi, gak deh, makasih” gitu kan ya. Malah kalo mau googling banyak thread yang bicara soal keburukan asuransi dan agentnya.

Aku sadar asuransi ketika usia 15 tahun, ketika itu tahun 1990, papaku meninggal dunia tanpa sebuah polis pun. Aku ingat sekali mamaku hanya pegang 1 lembar sertifikat TASPEN yang nilainya hanya 3 juta :(. Beberapa bulan setelah itu adik kakekku meninggal dan beliau meninggalkan 4 buah polis yang diwariskan kepada 8 orang anaknya. Beda sekali saat itu. Mamaku terpaksa menjual mobil dan menjadikan garasi sebagai warung kecil2an, sementara om tanteku menerima warisan beratus2 juta rupiah dari 4 polis ayahandanya. Sejak itu aku ingin tau apa itu asuransi. Pada usia 18 tahun aku memaksa mamaku untuk membeli sebuah polis, namun mamaku bilang ”asuransi itu tukang tipu” :(. Dan aku berjanji gaji pertamaku akan aku belikan polis.

Usia 21 tahun aku bekerja di sebuah perusahaan farmasi asing. Aku ingat sekali seorang tetanggaku yang baru aja lulus training di sebuah perusahaan asuransi menawariku produknya. Dan aku membelinya seharga 6jt/tahun selama 10 tahun. Aku infokan soal asuransi ini kepada teman2ku, aku bangga karena usia segitu sudah punya polis. Tapi mereka mencemooh. Mamaku malah bilang ”nabung tuh ya ke bank, atau titip mama aja sini”. Aduuh susah banget ya nyadarin orang ttg asuransi. Aku bertekad untuk mempelajari asuransi dan menerjuninya. Blessing always comes in disguise.

Sebagai karyawan aku seringkali di tempatkan di HRD. Mulai dari level Sekretaris hingga Level Manager pernah aku dalami dan aku selalu deal dengan Employee Compensation Benefit, mau tidak mau aku deal dengan insurance claim, dan lain2nya. Njelimet, gitu pikirku. Ngurusin claim dan komplen2. Tapi aku pelajari setiap detil polisnya, sehingga bisa menjelaskan kepada karyawan bagaimana benefitnya dan memaksimalkannya demi kesejahteraan mereka. Satu per satu karyawan aku jelaskan. Ada kejadian miris ketika istri seorang karyawan yang meninggal dunia datang menghadapku dan meminta bantuan dana. Suaminya tidak meninggalkan warisan sepeserpun. Malah harus melunasi tunggakan KTA nya. Saat itu aku berpikir “andai ia memiliki polis asuransi :(”

Tahun 2004 aku menikah. Sudah mulai berpikir untuk tidak bekerja kantoran. Namun suami yang merupakan seorang PNS jujur tau sendiri ya berapa penghasilannya, beliau menginginkan aku kerja kantoran saja, yang gajinya pasti setiap bulannya. Apalagi dia belum lama bekerja, belum masuk ke level2 tinggi lah. Namun cita2ku untuk menjadi FP sudah muncul. Dan saat itu aku sudah memiliki 3 polis asuransi.

Tahun 2006 aku melahirkan. Memiliki anak tentunya menggembirakan, namun setiap pagi aku kecewa (sedikiiiit) karena meninggalkannya dengan asisten/omanya, malam hari aku hanya mendapat laporan2 perkembangannya. Di tahun 2007 aku banyak bertemu dengan teman2 yang berprofesi sebagai agent asuransi, dari sana aku gali ilmu. Aku kagum dengan skill yang mereka punya. Daya juangnya. Motivasinya. Mulia sekali.

Tahun 2008, sudah makin jenuh di kantor. Rasanya pengen deh di PHK saja karena aku mau tahun 2009 banting setir jadi Financial Planner, aku sudah membidik sebuah perusahaan. Allah Maha Mendengar. Aku di PHK oleh perusahaan tempat aku bekerja. Rasanya senaaaaaaaaaang sekali, senangnya POLL. Aku utarakan hal ini kepada suami, dia tidak bisa berkata-kata lagi karena aku excited sekali dengan rencana2ku. Aku hanya butuh doa restunya saja. Dan berjanji akan bekerja sebaik mungkin sehingga financial matter will be no longer a problem.

Sebulan kemudian (lebih cepat dari rencanaku) aku ketok pintu di Manulife, mencari siapa ya orang yang tepat yang bisa menjadi atasanku. Aku punya kriteria sendiri untuk seorang atasan yang aku mau. Ia haruslah seorang yang sudah sangat senior, yang memiliki etos kerja dan integrity, yang tau bagaimana memperlakukan mitra kerjanya, yang bisa menjadi role model. Banyak sekali deh. Akhirnya setelah menginterview 2 orang calon boss (sombong banget ya kok malah menginterview boss) akhirnya aku merasa cocok dengan orang yang ketiga. Akhirnya aku sign up di Manulife.

Hingga kini aku lebih dari sekedar survive. Insurance is my passion. Membantu dan mencarikan solusi bagi banyak orang adalah salah satu yang membuat aku excited. Aku senang making other people’s life easier and bigger. Aku senang memberikan edukasi. Aku senang menjadi guru. Aku senang membuat orang sadar bahwa dirinya sangat berharga sehingga perlu di asuransikan agar anak cucu mereka meningkat hidupnya walaupun harus kehilangan sosok yang mereka cintai.

Itulah kira2 yang mendasari aku menerjuni profesi ini. Perlu belasan bahkan puluhan tahun untuk bisa membuat banyak rakyat Indonesia sadar akan pentingnya asuransi. Dan aku ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut. Harus dimulai dari sekarang. Bagi teman2 diluar sana, tidak mengapa kamu telat menyadari pentingnya asuransi, yang penting akhirnya kamu sadar. Aku butuh waktu 15 tahun untuk menyadarkan mamaku hingga akhirnya dengan kesadarannya dia membeli 2 buah polis. Aku perlu waktu 4 tahun untuk menyadarkan suamiku tentang betapa pentingnya dirinya. Tapi aku tidak akan bosan menyadarkan Indonesia dan bertekad untuk membantu pemerintah dalam program pengentasan kemiskinan melalui asuransi.

Dukung aku ya. Dan jangan sungkan2 untuk belajar tentang asuransi. I will be more than happy to share knowledge. Pekerjaan ini adalah amanahNya. ”Sebarkanlah walaupun hanya satu ayat”

Wassalam, Ilna

0 comments:

Post a Comment